Back To Top

Memasak desain.

Bikin desain itu seperti masak.
Bahan dan bumbunya harus pas, meski tergantung selera,
tapi seperti sudah ada takaran yang pas,
tinggal suka ‘pedas’, ‘manis’, ‘asin’,
maka bumbu untuk rasa rasa itu diperbanyak.
Kalau bumbunya terlalu banyak, atau kurang, rasanya juga kurang sedap.

Yang susah itu masak untuk beberapa orang yang memiliki selera berbeda.
Konsumen yang mengikuti rasa atau taste kita,
atau kita yang mengikuti permintaan konsumen.
Tapi perbedaan selera tersebut bisa di generalisasi.
Toh yang namanya pecel, ya gitu itu,
segmentasi, penikmat, dan konsumennya juga bisa dikelompokkan.
Jadi penciptaan taste-nya bisa ‘ditentukan’.

Tapi yang harus diperhatikan,
penyuka pecel, tentu berbeda ‘lidah’nya dengan penyuka (anggaplah) sushi.
Meski terkadang pembeli kedua makanan itu orang yang sama.
Tapi tetap, pecel dan sushi harus menjaga identitasnya,
karena mau masuk ke pangsa pasar penyuka pecel,
lalu sushi menggunakan bumbu pecel, hehehe..
sangat ‘melacurkan’ rasa dan identitas.

kemasannya, dan placement-nya juga berbeda dong.
Sushi yang notabene di konsumsi mereka yang ‘high class’,
placement-nya pun di tempat dimana orang orang itu berada.
Meski kadang pecel juga masuk ke tempat tempat itu,
tapi jelas, kemasan dan rasanya perlu di sesuaikan.

Orang yang biasa masak dan jual pecel di pinggir jalan,
ketika ingin menjadi penjual sushi,
mungkin perlu memahami dunia orang orang yang menjadi konsumennya dulu,
atau paling ngga berada di sekitar mereka,
jadi tau bagaimana pola pikir, obrolan, cara bercanda,
jadi ketika menyajikan, bercakap dengan konsumen, dan bercanda,
ngga ‘hambar’,
kalau ngga bisa membauar, ya jangan dipaksakan,
daripada malu maluin.

hmmm.. mungkin desain juga perlu seperti itu,
tau basic, tau mana elemen elemen desain yang utama, dan mana yang sekedar penghias,
seperti koki yang paham mana bahan utama, dan mana bumbu penyedap,
bisa memahami taste klien, sekaligus konsumen si klien,
dan untuk siapa desain itu akan disajikan.
Ngerti media placement-nya, agar desain yang udah diciptakan ngga mubazir karena diletakkan di media yang ngga sesuai, dan yang penting juga, mungkin,
ngga terlalu ‘melacur’, banting harga, nyomot konsep sana sini, tiru ini itu, main bajak.
Seseorang ngga akan dihargai orang lain, kalo dia ngga menghargai dirinya sendiri

IMHO

Post a Comment